Halaman

Senin, 30 September 2013

Happiness :)


When you love somebody, you do everything you can to make he or she happy.. because, it’s not just about  you anymore. But it’s all about us <3
And that’s what I feel, dio. He always trying makes me happy at least not to make me cry.. maybe that’s why I’m so in love with you.
Thankyou for the happiness we’ve shared..
Thankyou for spreading the love in my heart everyday..
Thankyou for everything you’ve done for me..
Thankyou for knows how to treat me well..
Thankyou for always be there for me..
Thankyou for giving me the best thing that I need (cinta, kasih sayang, perhatian, waktu dan semuanya)..
Thankyou for makes me feel so special..
Thankyou for having me in each and everyday of your life..
And thankyou for loving me.
You always made my day as always
I found the love in your heart.

Sincerely, me J



Kamis, 13 Juni 2013

The day I met you 
was the luckiest day
of my life.
And I bet
you feel the same. :)


Jumat, 24 Mei 2013

For all man out there


When I Was Your Man

Same bed but it feels just a little bit bigger now
Our song on the radio but it don't sound the same
When our friends talk about you, all it does is just tear me down
'Cause my heart breaks a little when I hear your name

It all just sounds like oooooh…
Mmm, too young, too dumb to realize
That I should have bought you flowers
And held your hand
Should have gave you all my hours
When I had the chance
Take you to every party
'Cause all you wanted to do was dance
Now my baby's dancing
But she's dancing with another man

My pride, my ego, my needs, and my selfish ways
Caused a good strong woman like you to walk out my life
Now I never, never get to clean up the mess I made, ohh…
And it haunts me every time I close my eyes

It all just sounds like oooooh…
Mmm, too young, too dumb to realize
That I should have bought you flowers
And held your hand
Should have gave you all my hours
When I had the chance
Take you to every party
'Cause all you wanted to do was dance
Now my baby's dancing
But she's dancing with another man

Although it hurts
I'll be the first to say that I was wrong
Oh, I know I'm probably much too late
To try and apologize for my mistakes
But I just want you to know

I hope he buys you flowers
I hope he holds your hand
Give you all his hours
When he has the chance
Take you to every party
'Cause I remember how much you loved to dance
Do all the things I should have done
When I was your man
Do all the things I should have done
When I was your man
click to watch the video ;)


I’ve just posted: When I Was Your Man lyric by Bruno Mars




For all man out there, do all the things you should have done, before someone else will do that to your woman.
Man should be the one who know how to treat and protect woman with special way.
Karena cinta seharusnya memang ditunjukan, bukan hanya sekedar kata.
Man, you don’t need the right moment to prove you love her.
You should do this for your woman :
~ Say: “I Love You” everyday  from daily greeting..
~ love her unconditionally, Loyally and keep her close..
~ Spending your time with her with lot of hugs, fun and laugh..
~ let your woman lays on your chest, it’s mean she’s wishing  for you to be her’s forever..
~ text her first..
~ don’t ever give up to be with her..
Because getting something is easier than keeping it.
Simple things leave in memories are hardest to erase, because the moments may have ended..but memories last forever.


Rabu, 01 Mei 2013


Busy Week


Hemm.. I guess this week is gonna be an exhausting week. I just can’t imagine it *sigh*
On Monday  I attended a seminar on my campus.
The tittle of seminar is “Psychological Contributions to Journalism”
well, about that seminar.. mass media does give a large effect for our point of view about phenomenon or news.
But what I’ve learned in that seminar is how we can reconcile people or groups in conflict. With Peace Psychology indeed ;) I wouldn’t  discuss about it furthermore.
On Thursday, I will practice intelligence and on Friday I will doing my psychology experemental assignment. I wish all my lecturers wouldn’t give me any assignments. Hahaha that’s a stupid wish ;p

I wanna face my middle test two weeks again. But I’ve still lot many assigment to be solve :’)
Can I take short holiday first ?? I need it, seriously :’3
Hem, but Dio will invite me to Bogor on Sundays later. Hipiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiie :D
I guess it will be fun, can’t wait yaa Dio <3


Logotherapy



Konsep Logoterapi
Logoterapi berasal dari kata logos (Yunani), yang dapat diartikan sebagai arti dan semangat. Manusia butuh untuk mencari arti kehidupan mereka dan logoterapi membantu kliennya dalam pencarian. Logoterapi terkadang disebut aliran ketiga dalam terapi psikis, aliran yang lainnya adalah analisis kejiwaan (Freud) dan psikologi individual (Adler). Mereka berbeda dalam analisis kejiwaan yang fokus pada tekad kesenangan, psikologi individual fokus pada tekad kekuatan dan logoterapi fokus pada tekad makna. Hidup itu singkat dan penuh potensi serta kemungkinan-kemungkinan. Hal yang terpenting bukan karakter, insting, inisiatif kita, tetapi bagaimana kita bersikap terhadap hal-hal tersebut. Kita bebas membentuk karakter kita dan bertanggung jawab juga terhadap apa yang kita buat untuk diri kita sendiri.


Ada tiga fungsi manusia secara jelas: hati nurani, refleksi contoh, dan kapasitas untuk membuat diri sendiri sebagai objek.
1. Kesadaran dan Ketidaksadaran
Dalam pencarian makna melibatkan kesadaran dan keidaksadaran. Logoterapi fokus terhadap kehidupan spiritual kita karena pada dasarnya kita makhluk spiritual. Kata spiritual disini bukan kata pada makna keagamaan. Fenomena spiritual kita dapa sadar atau tidak.
a. Ketidaksadaran Spiritual
Dasar kehidupan mnusia akhirnya adalah tidak sadar. Ada perbedaan diantara ketidaksadaran spiritual dan instingtual. Freud menganggap ketidaksadarn sebagai insting yang tertindas, kejiwaan yang dalam mengikuti klien pada dalamnya jiwa mereka daripada fokus terhadap jasmani yang tertindas. ada kesulitan pada diri yang dasarnya tidak terefleksikan: ’ Hidup berada pada aksi bukan refleksi’ Frankl.
b. Ketidaksadaran Keagamaan
Ketika impian dianalisis, keagamaan yang tidak sadar dan tertindas, tidak tertutupi. Ketidaksadaran keagamaan ada pada ketidaksadaran spiritual. Menurut Jung, ketidaksadaran keagamaan datang dari penyimpanan impersonal dari bayangan manusia. Frank mengatakan sebagai perbandingan bahwa hal tersebut berasal dari pusat kepribadian dari setiap manusia. Eksistensial dari keagamaan harus spontan, dan ketika harus asli, harus diungkapkan pada langkah sendiri. Frank (1975, hal. 70): ’sekali malaikat tertindas, ia akan berubah menjadi setan’.
2.  Hati Nurani
Hati nurani memiliki keaslian dalam ketidaksadaran spiritual dan dibandingkan secara individual dengan insting. Hati nurani dideskripsikan sebagai ’insting etika’ dan memiliki kualitas luar biasa.
3.  Makna
Menurut Frank (1955, hal.85) kita tidak akan pernah menghindar dari tugas memilih diantara kemungkinan-kemungkinan. Banyak orang mengabaikan masa lalu mereka sebagai sumber makna di kehidupan mereka, padahal mengindetifikasi sumber makna di masa lalu dapat memberi makna di masa sekarang. Makna hidup itu harus dicari oleh manusia. Di dalam makna tersebut tersimpan nilai-nilai yaitu : (1) nilai kreatif, (2) nilai pengalaman, dan (3) nilai sikap. Dengan dorongan untuk mengisi nilai-nilai itu maka kehidupan akan lebih bermakna. Makna hidup yang diperoleh manusia akan meringankan beban atau gangguan kejiwaan yang dialaminya.
Asas Logoterapi
Pada hakikatnya merupakan inti dari setiap perjuangan hidup, yakni mengusahakan agar kehidupan senantiasa berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan agama. Asas utama logoterapi yaitu:
1) Hidup itu tetap memiliki makna dalam setiap situasi. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga, dan didambakan serta memberi nilai khusus bagi seseorang dan ayak dijadikan tujuan hidup. Jika makna hidup berhasil ditemukan dan dipenuhi maka akan menyebabkan kehidupan berarti dan akan mendapatkan kebahagiaan sebagai ganjarannya.
2) Setiap manusia memiliki kebebasan yang hampir tidak terbatas untuk menemukan sendiri makna hidupnya. Makna hidup dan sumber-sumbernya dapat ditemukan dalam kehidupan itu sendiri khususnya pada pekerjaan yang dilakukan dan dalam keyakinan terhadap harapan dan kebenaran serta penghayatan atas keindahan, iman, dan cinta kasih.


3) Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terhadap penderiataan dan peristiwa tragis yang dihadapi setelah upaya mengatasinya telah dilakukan secara ptimal namun tidak berhasil. Maksudnya, jika kita tidak mungkin mengubah suatu keadaan sebaiknya kita mengubah sikap kita atas keadaan itu agar kita tidak terhanyut secara negatif oleh keadaan itu.
 Ketiga asas tersebut tercakup dalam ajaran logoterapi mengenai eksistensi dan makna hidup, sebagai berikut:
1) Dalam setiap keadaan termasuk dalam penderitaan sekalipun hidup ini selalu memberi atau mempunyai makna.
2)  Kehendak untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama setiap orang.
3) Dalam batas-batas tertentu manusia memiliki kebebasan dan tanggung jawab pribadi untuk mamilih, menentukan, dan memenuhi makna dan tujuan hidupnya.
4) Hidup yang bermakna diperoleh dengan jalan merealisasikan tiga nilai kehidupan (nilai-nilai kreatif/creative values, nilai-nilai penghayatan/experiental values, dan nilai-nilai bersikap/attitudinal values).
Sumber-sumber Makna Hidup
Selama kita mampu melihat hikmah di setiap keadaan maka makna hidup mungkin saja dapat ditemukan dalam keadaan penderitaan. Dalam kehidupan ini terdapat beberapa bidang kegiatan yang secara potensial mengandung nilai-nilai yang memungkinkan seseorang dapat menemukan makna hidupnya aabila nilinilai tersebut dipenuhi.
Creative values seperti berkarya, bekerja, serta melaksanakan tugas dan kewajiban sebaiknya dengan penuh tanggung jawab. Melalui karya dan kerja kita dapat menemukan makna hidup dan menghayati kehidupan secara bermakna. Namun, pekerjaan hanyalah sarana yang memberikan kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan makna hidup, sehingga makna hidup tidak terletak pada pekerjaan tetapi lebih tergantung pada individu yang bersangkutan.


Experiental values yakni keyakinan dan penghayatan akan nilai-nilai kebenaran, keindahan, keimanan, serta cinta kasih.

Attitudinal values yakni menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan kebenaran segala bentuk bentuk penderitaan. Dalam hal ini yang diubah buka keadaannya tetapi sikap yang diambil dalam menghadapi keadaan itu.

Hopefull values, harapan adalah keyakinan akan terjadinya hal-hal yang baik atau perubahan yang menguntungkan di kemudian hari. Meskipun harapan belum tentu menjadi kenyataan namun dapat memberikan sebuah peluang dan solusi serta tujuan baru yang menjanjikan dan dapat menimbulkan semangat dan optimisme.


Tujuan Logoterapi
Logo therapy bertujuan agar dalam masalah yang dihadapi klien dia bisa menemukan makna dari penderitaan dan kehidupan serta cinta. Dengan penemuan itu klien akan dapat membantu dirinya sehingga bebas dari masalah tersebut.Ada pun tujuan dari logoterapi adalah agar setiap pribadi:
1) Memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya;
2) Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan;
3) Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.
Hakikat Manusia dalam Logoterapi
Berikut ini merupakan beberapa pandangan logoterapi terhadap manusia :
1)  Menurut Frankl manusia merupakan kesatuan utuh dimensi ragawi, kejiwaan dan spiritual. Unitas bio-psiko-spiritual.
2) Frankl menyatakan bahwa manusia memiliki dimensi spiritual yang terintegrasi dengan dimensi ragawi dan kejiwaan. Perlu dipahami bahwa sebutan “spirituality” dalam logoterapi tidak mengandung konotasi keagamaan karena dimens ini dimiliki manusia tanpa memandang ras, ideology, agama dan keyakinannya. Oleh karena itulah Frankl menggunakan istilah noetic sebagai padanan dari spirituality, supaya tidak disalah pahami sebagai konsep agama.
3) Dengan adanya dimensi noetic ini manusia mampu melakukan selfdetachment, yakni dengan sadar mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menilai dirinya sendiri.
4) Manusia adalah makhluk yang terbuka terhadap dunia luar serta senantiasa berinteraksi dengan sesama manusia dalam lingkungan sosial-budaya serta mampu mengolah lingkungan fisik di sekitarnya.
Dengan demikian, dalam pandangan logoterapi manusia adalah istimewa yang memiliki berbagai kemampuan dan daya-daya istimewa pula. Sadar diri, kemampuan mengambil jarak dan transendensi diri menunjukan kemampuan manusia untuk melampaui dimensi ragawi (antara lain bawaan dan insting) dan pengaruh lingkungan serta mampu mengarahkan diri kepada hal-hal diluar dirinya seperti makna hidup dan orang-orang yang dikasihinya. Manusia pun menemukan makna hidup melalui apa yang diberikan kepada lingkungan, apa yang yang diambilnya dari lingkungan (menghayati keindahan dan cinta kasih ), serta sikap tepat atas kondisi tragis yang tak dapat dihindari (misalnya kematian).

Pandangan Logoterapi Terhadap Masalah


Dalam ilmu psikologi Eksistensial, masalah makna hidup banyak dibahas. Salah seorang tokohnya yang banyak membahas masalah makna hidup adalah Victor Frankl seorang psikiater dari Austria dengan teorinya yang disebut logoterapi. Menurut Frankl pada dasarnya manusia selalu menginginkan hidupnya selalu bermakna. Hidup yang tidak berarti membuat orang mengalami kehampaan eksistensial dan selanjutnya akan menimbulkan frustasi eksistensial (frustasi kerena tidak bisa memenuhi keinginanya kepada makna). Logoterapi membantu individu mengatasi masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya gairah hidup. Dalam logoterapi masalah adalah ujian hidup yang menurut Frankl harus dihadapi dengan keberanian dan kesabaran. Yakni keberanian untuk membiarkan masalah ini untuk sementara waktu tak terpecahkan, dan kesabaran untuk tidak menyerah dan mengupayakan penyelesaian.


Logoterapi dapat digambarkan sebagai corak psikologi yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will of meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakannya. Hidup akan memiliki makna dalam setiap situasi selama kita mampu mengambil hikmah, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terhadap peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa dirinya sendiri dan lingkungan sekitar (penderitaan dan kepedihan). Makna hidup setiap manusia dapat ditentukan sendiri olehnya, karena manusia memiliki kebebasan yang hampir tidak terbatas. Dari kebebasannya manusia dapat memilih makna atas setiap peristiwa yang terjadi dalam diri, apakah itu makna positif atupun makna yang negatif. Dan makna positif ini lah yang dimaksud dengan hidup bermakna.
Hubungan Terapis dan Klien dalam Logoterapi
Dalam logoterapi, klien mampu mengalami secara subjektif persepsi-persepsi tentang dunianya. Dia harus aktif dalam proses terapeutik, sebab dia harus memutuskan ketakutan-ketakutan, perasaan-perasaan berdosa dan kecemasan-kecemasan apa yang akan dieksplorasi. Memutuskan untuk menjalani terapi saja sering dianggap tindakan yang menakutkan. Klien dalam terapi ini, terlibat dalam pembukaan pintu diri sendiri. Pengalaman yang menakutkan atau menyenangkan dan mendepresikan atau gabungan dari semua perasaan tersebut.
Dengan membuka pintu yang tertutup, klien mampu melonggarkan belenggu deterministic yang telah menyebabkan dia terpenjara secara psikologis. Lambat laun klien mulai sadar, apa dia tadinya dan siapa dia sekarang serta klien lebih mampu menetapkan masa depan macam apa yang diinginkannya. Melalui proses terapi, klien bisa mengeksplorasi alternatif-alternatif guna membuat pandangan-pandangan menjadi nyata. Menurut Frankl (1959), pencarian makna dalam hidup adalah salah satu ciri manusia. Dalam pandangan para eksistensialis, tugas utama terapis adalah mengeksplorasi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan ketidakberdayaan, keputusasaan, ketidak bermaknaan, dan kekosongan eksistensial. Tugas proses terapeutik adalah menghadapi masalah ketidak bermaknaan dan membantu Klien dalam membuat makna dari dunia yang kacau.
Frankl menandaskan bahwa fungsi Terapis bukanlah menyampaikan kepada Klien apa makna hidup yang harus diciptakannya, melainkan mengungkapkan bahwa Klien bisa menemukan makna, bahkan juga dari penderitaan, karena penderitaan manusia bisa diubah menjadi prestasi melalui sikap yang diambilnya dalam menghadapi penderitaan itu.
Buhler dan Allen (1972) sepakat bahwa psikoterapi difokuskan pada pendekatan terhadap hubungan manusia alih-alih sistem teknik. Para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut :
1. Mengakui pentingya pendekatan dari pribadi ke terapis
2. Menyadari peran dari tanggung jawab Terapis
3. Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik 
4. Berorientasi pada pertumbuhan
5. Menekankan keharusan Terapis terlibat dengan Klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh
6. Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tangan Klien
7. Memandang Terapis sebagai model, dalam arti bahwa Terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit menunjukkan potensi Klien bagi tindakan kreatif dan positif
8. Mengakui kebebasan Klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri
9.  Bekerja ke arah mengurangi ketergantungan Klien serta meningkatkan kebebasan Klien May (1961) memandang tugas Terapis diantaranya adalah membantu Klien agar menyadari keberadaannya dalam dunia : “ini adalah ketika pasien melihat dirinya sebagai orang yang terancam, yang hadir di dunia yang mengancam dan sebagai subjek yang memiliki dunia”.
Frankl (1959) menjabarkan peran Terapis sebagai “spesialis mata daripada sebagai pelukis”, yang bertugas “memperluas dan memperlebar lapangan visual pasien sehingga spektrum keseluruhan dari makna dan nilai-nilai menjadi disadari dan dapat diamati oleh pasien”.
Tahapan-tahapan Logoterapi
Proses terapi pada umumnya mencakup tahap-tahap : perkenalan, pengungkapan dan penjajakan masalah, pembahasan bersama, evaluasi dan penyimpulan, serta pengubahan sikap dan perilaku. Biasnya setelah masa klienng berakhir masih dilanjutkan pemantauan atas upaya perubahan perilaku dan klien dapan melakukan konsultasi lanjutan jika diperlukan.  Logoterapi berorientasi pada masa depan (future oriented) dan berorientasi pada makna hidup (meaning oriented). Relasi yang dibangun antara terapis dengan klien adalah encounter, yaitu hubungan antar pribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami dan menerima sepenuhnya satu sama lain.
Ada empat tahap utama didalam proses logterapi diantaranya adalah:
1. Tahap perkenalan dan pembinaan rapport. Pada tahap ini diawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan pembina rapport yang makin lama makin membuka peluang untuk sebuah encounter. Inti sebuah encounter adalah penghargaan kepada sesama manusia, ketulusan hati, dan pelayanan. Percakapan dalam tahap ini tak jarang memberikan efek terapi bagi klien.
2. Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah. Pada tahap ini terapis mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi klien. Berbeda dengan terapi lain yang cenderung membiarkan klien “sepuasnya” mengungkapkan masalahnya, dalam logoterapi klien sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan.
3.  Pada tahap pembahasan bersama, terapis dan klien bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan.
4. Tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku klien. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom.
Teknik-Teknik Terapi
Victor Frankl dikenal sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis yang detail. Diantara teknik-teknik tersebut adalah yang dikenal dengan intensi paradoksal, yang mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiper-intensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti.
Seorang pemuda yang selalu gugup ketika bergaul dengan banyak disuruh Frankl untuk menginginkan kegugupan itu. Contoh lain adalah masalah tidur. Menurut Frankl, kalau anda menderita insomnia, anda seharusnya tidak mencoba berbaring ditempat tidur, memejamkan mata, mengosongkan pikiran dan sebagainya. Anda justru harus berusaha terjaga selama mungkin. Setelah itu baru anda akan merasakan adanya kekuatan yang mendorong anda untuk melangkah ke kasur.
Teknik terapi Frankl yang kedua adalah de-refleksi. Frankl percaya bahwa sebagian besar persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terlalu terfokus pada diri sendiri. Dengan mengalihkan perhatian dari diri sendiri dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya. Misalnya, kalau mengalami masalah seksual, cobalah memuaskan pasangan anda tanpa memperdulikan kepuasan diri anda sendiri. Atau cobalah untuk tidak memuaskan siapa saja, tidak diri anda, tidak juga diri pasangan anda.
Willis, Sofyan S. (2004). Konseling Individul Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta.

Jumat, 26 April 2013

13 months ago :)


The date of 26 is more special for me.. hemm..not only for me. But for US 
I will never forget everything that happened to me for the last 13 months. Everything was “precious” for me.
13 months ago, you for the first time say : “would you be my girl?”..
13 months ago, for the first time you reach my hand and looks at me with expectantly..
13 months ago, I can feel my heart get a little beats faster
13 months ago, my heart is sure that you are the one..
13 months ago, you touched my herat and I feel completely..
And I hope your love would’nt never fade :’)
Much love. xoxo



Behavioral Therapy

Definisi Terapi Perilaku
Terapi perilaku merupakan intervensi yang menerapkan prinsip dan teknik belajar secara sistematis untuk mengubah perilaku individu dalam upaya meningkatkan fungsi dalam kehidupan sehari-hari (Martin & Pear, 2007.)

Dimensi Perilaku


Perilaku memiliki satu atau lebih dimensi yang dapat diukur (Martin & Pear, 2007). Dimensi-dimensi tersebut meliputi:
a) Frekuensi, yang merujuk pada seberapa sering suatu perilaku muncul
b) Durasi, yang merujuk pada seberapa lama suatu perilaku berlangsung
c)  Intensi, yang merujuk pada seberapa kuat suatu perilaku muncul
d)  Latensi, yang merujuk pada seberapa lama rentang waktu antara terjadinya stimulus dan respon perilaku yang muncul

Tahapan Terapi Perilaku
Ada beberapa tahap yang dilaksanakan dalam penerapan program behavior modification (Martin & Pear, 2007), yaitu:
a.  Screening or intake phase
Dalam fase ini dilakukan pengklarifikasian masalah dan penentuan siapa yang harus diberikan penanganan.
b.  Baseline or preprogram assessment phase
Dalam fase ini dilakukan assessment terhadap target behavior sebelum program dilaksanakan. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi apakah perilaku pada seseorang berubah atau tidak setelah mendapatkan treatment.
c.  Treatment phase
Dalam fase ini treatment modifikasi perilaku diberikan kepada klien berdasarkan teknik yang dipilih.
d.  Follow up phase
Fase ini dilaksklienan setelah treatment selesai. Tujuan dari fase follow up adalah mengevaluasi apakah perilaku berubah setelah treatment tidak lagi diberikan.

Strategi dan Tehnik

Systematic Desensitization(SD)


Systematic desensitization merupakan bentuk terapi perilaku yang dikembangkan oleh Joseph Wolpe untuk mengatasi masalah fobia spesifik (Martin & Pear, 2007). Terapi ini dilandasi oleh prinsip reciprocal inhibition, yaitu stimulus yang menimbulkan rasa takut dipasangkan dengan respon tertentu yang dapat menghalangi munculnya perasaan takut. Dalam pelaksanaannya klien mempraktikan relaksasi sambil membayangkan stimulus yang ditakuti secara bertahap.
Terapi ini telah digunakan secara luas dan terbukti efektif untuk mengatasi masalah takut yang berlebihan (Kazdin, 1980).

In Vivo Desensitization (IVD)


Merupakan bentuk lebih lanjut dari systematic desensitization, namun pada prosedur ini secara bertahap klien benar-benar dihadapkan pada stimulus yang menimbulkan rasa takut (Walker, Clement, dan Wright, 1981, dalam Miltenberger, 2008). IVD lebih tepat diterapkan pada individu yang mengalami kesulitan dalam membayangkan stimulus yang ditakuti (Martin & Pear, 2007).
1.  Tahapan In Vivo Desensitization
Terdapat tiga tahap pada IVD, yaitu:
a.  Relaksasi

Pelatihan relaksasi merupakan strategi yang digunakan untuk menurunkan autonomic arousal yang merupakan komponen dari rasa takut dan cemas. Ketika klien merasa takut atau cemas, respon fisiologis yang muncul adalah ketegangan pada otot, detak jantung yang cepat, berkeringat dingin, atau nafas yang tersengal-sengal. Simptom-simptom tersebut merupakan bagian dari autonomic arousal yang muncul ketika klien menghadapi stimulus yang ditakuti. Dengan menggunakan prosedur relaksasi, klien melakukan aktivitas yang berfungsi berlawanan dengan autonomic arousal seperti menurunkan ketegangan otot, menghangatkan tangan, bernafas dengan pelan, dll. Ketika klien melakukan prosedur aktivitas yang berlawanan dengan respon otonomi tubuh, maka ketakutan akan berkurang. Salah satu prosedur relaksasi yang banyak digunakan adalah diaphragmatic breathing (Davis, Eshelman, & McKay, dalam Miltenberger, 2008).
Diaphragmatic breathing atau deep breathing atau relaxed breathing merupakan teknik relaksasi dimana klien bernafas panjang dalam ritme yang lambat dan teratur. Setiap kali bernafas klien menggunakan otot diagfragma untuk menghirup oksigen ke dalam paru-paru. Pola pernafasan tersebut dilakukan untuk menggantikan pernafasan pendek dan tersengal yang muncul secara automatic ketika seseorang merasa takut atau cemas. Untuk mempelajari diaphragmatic breathing, klien duduk dalam posisi yang nyaman sambil meletakkan tangan di perut yang merupakan lokasi otot diafragma, menutup mata, kemudian menarik nafas dengan lambat sekitar 3-5 detik. Pada saat menarik nafas, klien merasakan pergerakan diagfragma dan memfokuskan diri pada sensasi fisik yang ia rasakan. Hal tersebut juga berguna agar perhatian klien teralih dari stimulus yang membuatnya tidak nyaman.
 b. Hirarki Stimulus yang Ditakuti
Setelah klien mempelajari dan menguasai prosedur relaksasi, terapis dan klien menyusun hirarki stimulus yang menimbulkan ketakutan pada klien. Pertama klien diminta untuk menuliskan berbagai stimulus yang ia takuti. Setelah itu klien memberi rating kecemasan yang bernilai 0-100 pada masing-masing stimulus. Dari daftar stimulus tersebut lalu, terapis menyusun stimulus mulai dari yang menimbulkan rasa takut paling rendah sampai dengan yang paling tinggi.
 c. Exposure
Setelah hirarki stimulus yang ditakuti tersusun, secara bertahap klien mulai dihadapkan langsung dengan stimulus-stimulus tersebut sambil menerapkan teknik relaksasi yang telah dipelajari. Pada sesi awal, stimulus yang dihadapkan pada klien adalah menimbulkan ketakutan paling rendah. Setelah klien merasa nyaman dan tingkat ketakutannya berkurang, ia akan dihadapkan pada stimulus yang lebih sulit. Demikian seterusnya sampai akhirnya klien dihadapkan pada stimulus yang paling ditakuti.

Reinforcer


Reinforcer diberikan untuk memperkuat suatu perilaku yang dipelajari. Kazdin (1980) menjelaskan beberapa tipe reinforcer yang dapat diterapkan dalam behavior modification, yaitu:
a.  Food and other consumables
Makanan menjadi primary reinforcers karena nilai penguatannya tidak dipelajari namun bersifat subjektif bagi masing-masing orang dan tergantung pada preferensi makanan tertentu. Kombinasi makanan dengan tipe reinforcer lain, misalnya pujian atau kejadian sosial lainnya dapat dilakukan sehingga di kemudian hari pujian atau kejadian sosial lain dapat mengontrol perilaku secara efektif.
b.  Social reinforcers
Social reinforcers meliputi pujian verbal, perhatian, kontak fisik (sentuhan dan berpegangan tangan) dan ekspresi wajah (senyuman, kontak mata, anggukan dan kedipan) yang dapat diberikan dengan mudah dan cepat dan tidak menginterupsi perilaku yang sedang muncul.
c.  High-probability behaviors
Tipe reinforcer ini memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan aktivitas yang disukainya atau untuk mendapatkan hak istimewa, misalnya bermain sepeda atau berenang. Pada beberapa kasus dimana akses terhadap suatu aktivitas terlalu sering frekuensinya, maka akan mengganggu rutinitas sehari-hari (Osborne dalam Kazdin, 1980).
d.  Informative feedback
Memberikan informasi tentang performa anak dapa menjadi reinforcement yang sangat berguna. Feedback secara implisit menyatakan respons mana yang diharapkan untuk muncul dan mengindikasikan penerimaan atau penolakan sosial terhadap perilaku anak.
e. Tokens


Tokens memiliki fungsi yang sama seperti uang dalam sistem perekonomian nasional. Tokens, dikumpulkan oleh anak untuk kemudian ditukarkan dengan back-up reinforcers, misalnya makanan, kegiatan, atau hak istimewa. Jumlah penukaran tokens untuk back-up reinforcers harus spesifik sehingga menjadi jelas berapa banyak tokens yang dibutuhkan untuk “membeli” reinforcer tertentu. Desirable behavior juga perlu dinyatakan secara eksplisit bersamaan dengan berapa banyak tokens yang diperoleh jika anak menunjukkan perilaku demikian. Tokens merupakan tipe reinforcer yang dapat menghubungkan penundaan antara desirable behavior dan back-up reinforcement. Hal ini merupakan kelebihan dari sistem tokens. Jika suatu reinforcer (misalnya aktivitas) tidak dapat diberikan dengan segera, maka tokens dapat diberikan dengan segera dan kemudian digunakan untuk ”membeli” back-up reinforcer. Akan tetapi, sistem ini juga memiliki kelemahan. Jika pemberian tokens dihentikan, maka desirable behavior akan menghilang (Kazdin, 1980).
Jadwal pemberian reinforcement merujuk pada seberapa banyak respons atau respons spesifik mana yang akan diberikan reinforcer.
Pada jadwal yang sederhana, reinforcement akan diberikan setiap kali respons muncul, yang dinamakan continuous reinforcement. Misalnya untuk melatih anak dengan intellectual disability agar dapat mengikuti instruksi, maka reinforcement diberikan segera setelah anak berespon secara tepat. Pada kondisi lain, reinforcement diberikan setelah beberapa kali respons yang sama muncul. Jadwal seperti ini dinamakan intermittent reinforcement. Jika pemberian reinforcement dihentikan, maka perilaku yang mendapat reinforcement secara kontinu akan cenderung menghilang lebih cepat dibandingkan dengan perilaku yang mendapat intermittent reinforcement (Kazdin, 1980).

Operant Conditioning
Tingkah laku operan menjadi ciri organisme yang aktif yang beroperasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat, merupakan tingkah laku yang paling berarti dalam kehidupan sehari-hari (misalnya, membaca, berbicara, berpakaian, makan, bermain). Menurut Skinner (1971) jika suatu tingkah laku diganjar maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut dimasa mendatang tinggi. Prinsip perkuatan yang menerangkan pembentukan, pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laku merupakan inti dari pengkondisian operan.
Di sini akan diilustrasikan teknik-teknik operan yang menggunakan reinforcement positif, pemadaman/penghentian (extinction), dan “time out” dari reinforcement positif..
a. Positive Reinforcement
Pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau perkuatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul, merupakan suatu cara yang ampuh untuk mengubah tingkah laku.
b. Pemadaman/penghentian (Extinction)
Apabila suatu respons terus-menerus dibuat tanpa perkuatan, maka respons tersebut cenderung menghilang. Dengan demikian, karena pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah suatu periode, cara untuk mengahapus tingkah laku yang maladaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku tersebut. Wolpe (1969) menekankan bahwa penghentian pemberian perkuatan harus serentak dan penuh.
c. Time-out
Dapat dilakukan dengan dua cara: (1) berkaitan dengan mainan atau boneka yang menjadi favoritnya, atau (2) dengan menempatkan klien dalam suatu “time out room” dimana di dalam ruangan/rumah tersebut tidak ada “rangsangan ganjaran” atau sesuatu untuk dikerjakan (misalnya, TV, majalah, atau mainan).

Flooding (Pembanjiran)
Kontras dengan sistematik desensitisasi yang menyajikan item hirarkis untuk meminimalisir kecemasan, maka flooding menyajikan itemitem untuk memaksimalkan kecemasan, dapat secara imaginal atau secara ‘in vivo’ yang menyajikan dunia real dengan stimulus aktual. In vivo flooding terutama efektif untuk menangani agoraphobia.

Implosive Therapy
Dikemukakan oleh Thomas Stampfl (1961), teknik ini sama dengan ‘imaginal flooding’, dimana klien diarahkan untuk membayangkan situasi (stimulus) yang mengancam. Dengan secara berulang-ulang dimunculkan dalam setting terapi dimana konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan dan menakutkan tidak muncul, stimulus yang mengancam kehilangan daya menghasilkan kecemasannya, dan penghindaran neurotik pun terhapus. Misalnya, klien yang obsesif terhadap “kebersihan”.

Participant Modeling (Percontohan)
Meliputi: modeling dengan partisipasi terbimbing (terapis membimbing klien atas rangkaian latihan), demonstrasi dengan partisipasi (terapis medemonstrasikan sebelum klien berpartisipasi), dan contact-desensitization (kontak pisik antara terapis dan klien selama phase awal partisipasi klien dalam treatment).

Self-Efficacy dan Teknik-Teknik Mereduksi-takut
Efficacy information, ditransformasikan kepada klien melalui: (1) actual performance accomplishment, (2) vicarious learning (modeling), (3) verbal persution, dan (4) changes physiological arousal. Implikasi teori Bandura untuk psikoterapi bersifat ‘direct’. Ketika desensitisasi sistematik mengambil keuntungan perubahan dalam ‘autonomic arousal’ dan ‘verbal persuation’, maka ‘participant modeling’ justeru melibatkan empat saluran informasi, dengan ditambah vicarious modeling dan sumber informasi yang paling kuat/baik, serta partisipasi aktif (pencapaian performance). Dengan demikian, participant modeling menurut Bandura merupakan treatment  yang lebih efektif daripada desensitization.

 Assertiveness (Social Skills) Training
Latihan asertif bisa diterapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. Tingkah Iaku asertif memiliki karakteristik: (1) ‘tingkah laku interpersonal’ yang melibatkan ‘kejujuran dan ekspresi yang berterus terang’ dari pikiran dan perasaan, (2) tingkah laku asertif adalah ‘socially appropriate’, dan (3) ketika seseorang menjadi asertif, maka akan mendapat dan memperhitungkan ‘feelings and welfare” pada yang lain. Teknik-tekniknya: (a) the Glasses Technique, dan (b) Assertiveness Training in Groups.

 Aversive Countercounditioning
Dalam banyak kasus, tujuan terapi adalah mengelimiasi atau mengurangi tingkah laku bermasalah. Teknik aversif terutama sangat cocok untuk tugas ini. Secara definisi aversive (penentangan), digunakan untuk mengatasi macam-macam tingkah laku yang tidak menyenangkan atau tidak diinginkan. Misalnya, pecandu rokok, peminum, dan homoseks. Teknik aversi digunakan untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral spesifik yang melibatkan pengasosiasian tingkah laku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya. Kendalinya bisa melibatkan penarikan pemerkuat positif atau penggunaan hukuman (misalnya, kejutan listrik, atau ramuan yang membuat mual)
Self-Control
Teknik behavioral yang menekankan suatu aktivitas, ‘coping respons’ dari klien yang memungkinkan seseorang mengontrol dalam situasi-situasi problematiknya. Misalnya, digunakan untuk alkoholik, ‘selfabusive child’, untuk siswa yang ingin mengembangkan keterampilan studi, atau untuk pribadi ‘overweight’ yang ingin mengontrol tingkah laku makan.

Contingency Contracting
Contingency contracting adalah suatu bentuk teknik managemen tingkah laku, yang berguna untuk meredusir perselisihan/perpecahan marital bagi para remaja. Tahapan-tahapannya yaitu: asesmen yang difokuskan pada faktor-faktor spesifik ketidak seringan terjadinya tingkah laku yang diharapkan dan keseringan terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, melokalisir mediator atau orang lainyang dapat memfasilitasi intervensi, mengidentifikasi reward, dan menspesifikasikan ‘pendorong’ yang dapat diterima.

Behavior Therapy and Behavioral Medicine
Pomerleau (1982) menggambarkan behavioral medicine, sebagai:
(1) klinikal menggunakan teknik-teknik yang berasal dari analisis eksperimental tingkah laku – terapi tingkah laku dan modifkasi tingkah laku untuk evaluasi, prevensi, managemen atau treatmen penyakit fisik atau disfungsi fisiologis,
(2) mengarahkan kontribusi riset untuk analisis fungsional dan memahami tingkah laku hubungannya dengan gangguan medis dan masalah-masalah dalam pemeliharaan kesehatan.

Prinsip-Prinsip yang Menjadi Pegangan Terapis (Konselor)
-  Reinforcement sebagai alat pengatur pembentukan tingkah laku baru, dan pendekatan berdasarkan prinsip-prinsip belajar.
-   Ikatan antara stimulus tertentu dengan respon cemas, dapat diperlemah dengan usaha yang simultan, sehingga respon cemasnya hilang.
-  Kondisioning klasik, salah satu prosedur terapi behavioral yang diteliti secara empiris dan digunakan secara luas, untuk mengeliminasi reaksireaksi kecemasan yang terkondisikan dan phobia-phobia.
-    Respon terhadap kecemasan itu dapat dipelajari atau dikondisikan, dan dapat dicegah dengan memberi substitusi berupa suatu aktivitas yang bersifat memusuhinya.

G. DAFTAR PUSTAKA
Corey, Gerald. Penerjemah Mulyarto. (1991). Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Semarang: IKIP Semarang Press. 30
Dahlan, M.D. (1985). Beberapa Pendekatan dalam Penyuluhan (Konseling). Bandung: Diponegoro
Lynn, Steven Jay & Garske, John P (1985). Contemporary Psychotherapies Models and Method. Columbus, Ohio: Bell & Howell Company.
Walker, C. Eugene, et. al. (1981) Clinical Procedures for Behavior Therapy. New Jersey: Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs